Read Para Penunggang Petir by Muhammad Sadra Online

para-penunggang-petir

Acara darmawisata Kairi, Dani, dan Satra menjadi awal dari petualangan seru. Mereka tanpa sengaja memasuki sebuah gerbang waktu dan berada di sebuah dunia yang berbeda. Awalnya hanya serbuan burung rajawali raksasa. Selanjutnya petualangan demi petualangan datang susul-menyusul tanpa henti.Selain membantu para sahabat baru mereka melawan musuh jahat, mereka juga harus mencAcara darmawisata Kairi, Dani, dan Satra menjadi awal dari petualangan seru. Mereka tanpa sengaja memasuki sebuah gerbang waktu dan berada di sebuah dunia yang berbeda. Awalnya hanya serbuan burung rajawali raksasa. Selanjutnya petualangan demi petualangan datang susul-menyusul tanpa henti.Selain membantu para sahabat baru mereka melawan musuh jahat, mereka juga harus mencari jalan agar bisa kembali ke dunia mereka....

Title : Para Penunggang Petir
Author :
Rating :
ISBN : 9789792439380
Format Type : Paperback
Number of Pages : 244 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Para Penunggang Petir Reviews

  • Ardani Subagio
    2018-12-01 21:49

    Gimana ya? Buku ini ga jelek2 banget, dalam artian cara penceritaan dan gaya bahasa sama sekali ga mengganggu aku mbaca dan melewati beberapa puluh halaman pertama. Tapi juga ga terlalu istimewa banget.Caba deh aku baca sampe slese.Sudah selesai dan rasanya emang kaya novel anak2. Gaya nulis narasi, deskripsi, sampai karakterisasi yang terasa tidak terlalu matang dan sangat anak2. Bahkan untuk karakter jendral dan adegan perangnya.Jadi buku ini lumayanlah buat dinikmati walopun cuma sebagai hiburan dan tidak ada yang terlalu "wah" didalamnya*edit*Review lebih panjang, tadi kompie pinjeman soalnya, nulisnya agak ga enak :PDiatas aku bilang kalo gaya narasi, deskripsi, dan karakterisasi novel ini dibuat terlalu kekanak-kanakan. Satu hal yang bikin aku ngerasa kaya gitu adalah masalah yang dilempar ke tiap karakternya. Terlalu mudah dan simpel. Baik alasan munculnya, ataupun penyelesaiannya.Yang pertama cara mereka "pindah" ke dunia lain. Terlalu sudden dan ga ngasih kesan apa2 sama sekali. I mean, fokus awal cerita ini adalah kepindahan para anak2 ke dunia yang asing buat mereka. Tapi proses kepindahannya terjadi begitu aja dan ga ada prosesnya. Mereka sembunyi dalem kabut dan mendadak diserang thanderberd. Udah gitu aja.Padahal bisa dibikin satu adegan yang bisa ngehook pembaca di bagian ini. Bagaimana eksotisnya atau betapa hebohnya proses kepindahan antar dunia, seperti melewati lemari baju Narnia, atau masuk ke dalam mulutnya Mokona (err, not really). Kalau bisa dibuat lebih detail dan terperinci, bagian awalnya pasti bisa jadi sangat menarik.Masalah2 berikutnya yang datang pun tidak bisa dikatakan terlalu sulit untuk diatasi, bahkan oleh anak2. Despite suatu sosok di bayangan yang kayanya pengen ngebunuh mereka yang for what reason sampai akhir buku juga ga ketahuan. Dan ada beberapa contoh yang mau aku lewati dulu biar review ga terlalu panjang.Kemudian deskripsi dan narasi. Secara teknik ga da masalah besar yang bikin dahi sampai berkerut. Cukuplah buat bikin novel ini dinikmati dari awal sampai akhir dalam beberapa hari. Apalagi ada eksperimen unik mengubah POV dari sudut pandang ketiga ke sudut pandang pertama. Perubahannya cukup bagus, dan cukup jelas siapa yang jadi "aku"nya buat satu bab. Nice.Aku cuma ngerasa kurang di bagian emosi tokoh aja. Aku cuma ngerasa sebagai penonton dan ga bener2 ngerasa waktu karakter2 ini sedih atau gimana. Tapi berhubung ini karya dari anak kecil yang mungkin masih belajar nulis, bagian ini aku maafin deh.Karakterisasi yang datar2 aja. Mungkin karena yang buat anak2 dan segmennya mungkin buat anak2 juga, jadi tiap karakter kerasa seragam. Tapi kalo later dia mau bikin dan nerbitin novel lagi, definitely karakterisasi jadi satu bagian yang perlu dikembangin. Disini, semua karakter di satu pihak kerasa sama semua. Semua karakter di sisi protagonis terasa baik semua, dan semua karakter di sisi antagonis jadi jahat semua (tapi, cuman ada satu karakter antagonis sih yang worth mentioning). Bahkan Aldilla, yang supposed to be their leader, ga kerasa kebijaksanaannya sebagai seekor naga yang usianya pasti udah jauh ngelewati semua bawahan2nya. Belum lagi karena ga lama setelah ketemu Aldilla langsung dikenalin sama lima jendralnya yang tiap2 karakternya kerasa sama juga. Jadi awalnya kerasa agak bingung ngebedain tiap karakternya. Kecuali si macan putih itu, yang dengan cerdiknya dialognya dibikin beda sendiri.Untuk bagian battlenya... aku ga bisa ngomong banyak sih. Mungkin cuman kurang pemahaman di bagian strategi perang aja jadi tiap pertempuran terasa harus membunuh semua pasukan musuh yang terlihat mata. Imajinasi juga ga seberapa jelek. Standar aja lah.Dan... apa aja yang udah aku komentari? Karakter? Narasi? Deskripsi? Kalo plot? Not too special juga, tapi aku ga review banyak disini. Biarin yang mau tahu beli sendiri dan nilai sendiri. Satu yang mau aku kasih komentar pamungkas adalah, si Ujang! Eh, Kujang!Kujang ini sejatinya adalah senjata tradisional orang Sunda. Bentuknya berupa pedang dengan bilah menyerupai setengah cakram (yang aku tangkep dari deskripsi penulis). Yang kalo dibayangin sama orang Jawa Timur kaya aku, jadinya ga jauh beda sama clurit (cek google buat yang ga tau). Senjata tradisional ini, entah bagaimana asal muasal dan ceritanya, bisa muncul di dunia lain sebagai salah satu senjata yang tersimpan dalam ruang senjata di gua yang tersembunyi bersama dengan bertumpuk-tumpuk keping emas.Aku bukannya mau minta penjelasan logis kenapa bisa ada senjata dari "dunia ini" di "dunia sana". I know it's asking too much. Yang aku sayangkan adalah bagaimana senjata ini hanya muncul sebagai tempelan. Maksudku sebagai tempelan adalah, kalau misalnya si kujang ini ga muncul akhirnya ga ngaruh sama sekali ke bangunan cerita. Baik itu diplot, setting, atau apapun. Karena, toh, akhirnya kujang ini ga pernah dipakai sampai akhir buku. Si Dani akhirnya ketangkep duluan sebelum sempet make senjata itu. Padahal namanya sama kaya aku! Malu2in banget sih! *Dilempat berbagai macem senjata karna komen ga jelas*Bayangkan kalau seandainya kujang ini berpengaruh banyak ke cerita. Misalnya, menyambung paragraf awal review panjang ini, proses kedatangan mereka ke "dunia lain" ini (btw, dunia lain ini namanya apa ya? Lupa). Bayangkan kalau ketika ketiga jagoan kita ini lagi main petak umpet (udah SMP masih maen petak umpet? Jamanku dulu udah main CS) tiba2 mereka nemuin si kujang ini beserta beberapa senjata tradisional lain. Dan karena kekuatan sihir yang entah dapet darimana senjata kujang ini membawa mereka ke dunia lain. Dan untuk kembali ke "dunia ini" mereka bertiga harus mengaktifkan kembali kekuatan sihir yang ada di senjata tradisional itu melalui berbagai macam misi dan petualangan.Liat bedanya? Kalo pake cara yang diatas, senjata tradisional apapun yang kita masukkan ke cerita ga akan cuman sekedar jadi tempelan penghias cerita. Tapi malah jadi motivasi utama para karakter dan sekaligus menjadi pendukung plot! Ga cuman sekedar muncul satu-dua halaman di buku buat dipamerin ke temen2 "Liat nih, di buku yang aku buat ada senjata tradisionalnya! Aku cinta budaya dalam negeri, kan?"Such a shame, kalo itu satu2nya tujuan bawa2 senjata tradisional ke dalam cerita.*Ngelirik review panjang diatas* wow, udah lama banget aku ga bikin review sepanjang itu. Mungkin sudah waktunya itu blog review novelku diidupin lagi ya? Hmm...

  • Nenangs
    2018-11-28 15:53

    di samping barcode isbn ada tulisan "novel anak".meskipun cara bertutur dan alur ceritanya sangat sederhana, sesuai dengan label "novel anak", tapi beberapa detil sangat tidak cocok untuk anak-anak seperti: kepala-kepala putus, kapak menancap di kepala, badan terputus/terbelah, dll.dalam bayangan saya, "anak" itu berumur antara 5 (lewat masa balita) sampai umur sekitar 12-an tahun (mulai masuk masa remaja). mungkin perlu ada segmentasi umur yang lebih jelas.

  • Melody Violine
    2018-11-29 17:46

    konon penulisnya masih remaja dan ini karya pertamanya, jadi tetap saya acungi jempol deh :)